GEO-7, Global Environment Outlook edisi ketujuh, merupakan laporan penilaian lingkungan global yang disusun oleh Badan Lingkungan PBB (UNEP) dan baru-baru ini diluncurkan pada pertemuan Majelis Lingkungan PBB (UNEA-7) di Nairobi. Peluncuran ini bukan sekadar seremoni. GEO-7 sengaja dibawa ke forum lingkungan tertinggi PBB agar fakta ilmiah tidak berhenti di ruang akademik, tetapi langsung berhadapan dengan dunia kebijakan.
Berbeda dari laporan rutin yang terbit berkala, GEO disusun dalam jeda waktu panjang, memberi ruang bagi dunia untuk benar-benar menelaah, bukan sekadar mencatat angka. Itu bukan laporan yang ditunggu setiap tahun, melainkan hadir ketika tekanan terhadap bumi sudah sedemikian nyata sehingga penilaian menyeluruh tak lagi bisa ditunda.
Disusun melalui kerja panjang ratusan ilmuwan lintas disiplin dan lintas kawasan, GEO-7 tidak terbit dengan nada sensasional namun sangat mengusik. Banyak pakar yang terlibat menyebut GEO-7 sebagai salah satu laporan paling jujur yang pernah disusun UNEP. Bukan karena temuannya mengejutkan, melainkan karena secara jelas menunjukkan bahwa dunia sebenarnya sudah lama mengetahui apa yang sedang terjadi.
Perubahan iklim, polusi, degradasi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati bukan lagi kejutan ilmiah. Yang menjadi persoalan adalah respons manusia terhadap pengetahuan itu. Sejumlah ilmuwan lingkungan menilai kekuatan utama GEO-7 terletak pada caranya menautkan kesehatan planet dengan kesejahteraan manusia. Udara bersih tidak lagi dibahas sebagai isu ekologis semata, tetapi sebagai fondasi kesehatan publik. Tanah yang sehat tidak hanya soal konservasi, tetapi soal pangan dan rasa aman. Dalam kerangka ini, lingkungan berhenti menjadi isu tambahan dan kembali ke posisinya sebagai dasar kehidupan.
Pakar kebijakan publik membaca GEO-7 sebagai teguran yang kurang nyaman bagi para pengambil keputusan. Banyak di antara mereka menyebut krisis lingkungan kini sebagai krisis keputusan, bukan krisis data. Bukti ilmiah sudah tersedia, teknologi telah berkembang, dan rekomendasi telah lama disampaikan. Namun pilihan politik dan ekonomi kerap tertahan oleh kepentingan jangka pendek. GEO-7, menurut mereka, dengan halus menyingkap jarak antara apa yang diketahui dan apa yang seharusnya berani dilakukan.
Di kalangan ekonom lingkungan, laporan ini dipandang penting karena menantang narasi lama bahwa merawat alam akan menghambat kesejahteraan. Sebaliknya, mereka melihat GEO-7 menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan justru menciptakan beban ekonomi dan sosial yang besar, meski sering tidak tercatat. Mengabaikan alam, dalam pandangan ini, bukan hanya tidak adil, tetapi juga tidak rasional.
Namun kritik tetap ada. Beberapa pakar menilai bahwa meskipun lebih tegas dibanding edisi sebelumnya, GEO-7 masih terikat bahasa diplomatik. Masalah disampaikan dengan jelas, tetapi perubahan nyata tetap bergantung pada kemauan politik negara-negara anggota. Ada kekhawatiran bahwa laporan ini, seperti banyak laporan global lainnya, akan menjadi rujukan yang sering dikutip tetapi jarang dijadikan dasar tindakan.
Pakar dari negara-negara berkembang juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar terletak pada interpretasi. Laporan global mudah terasa jauh dari kehidupan komunitas yang paling terdampak. GEO-7 dinilai sudah membuka ruang keadilan dan ketimpangan, tetapi pekerjaan beratnya adalah memastikan temuan itu hidup dalam kebijakan nasional dan lokal.
Di titik ini, pertanyaan sulit tak terhindarkan. Mengapa laporan demi laporan terus terbit, sementara perbaikan lingkungan terasa lambat? Jawaban para pakar cenderung sama. Dunia tidak kekurangan pengetahuan, tetapi kekurangan keberanian. Sistem yang menopang kerusakan masih dianggap normal, dan perubahan sistem selalu berarti mengganggu kenyamanan.
Bagi Indonesia, refleksi ini terasa dekat. Banjir, krisis air, polusi udara, dan konflik ruang hidup bukan cerita terpisah. GEO-7 membantu melihat benang merahnya. Ia mengingatkan bahwa laporan hanyalah alat, dan bukan tujuan akhir. Tanpa keberanian menjadikannya dasar tindakan, dunia akan terus bercermin lewat laporan, sambil menunda perubahan yang sebenarnya sudah lama diketahui perlu dilakukan.



